|
Perubahan nama Yatsrib menjadi Madinah pada hakekatnya
sebuah pernyataan niat atau proklamasi, yang berkehendak mendirikan dan
membangun masyarakat yang beradab sebagai tantangan terhadap masyarakat
jahilia dan di Mekkah.
Dalam sejarah perjalanan Islam membangun sebuah peradaban
ditandai dengan dua dokumen penting yaitu :
Piagam Madinah dan Piagam Aelia dalam terminology politik
adalah wujud konkrit dari terbentuknya Civil Sociaty. Dalam konteks ini,
membentuk masyarakat madani adalah suatu cikal bakal penyaluran demokratisasi.
Masyarakat madani yang dibangun Nabi Muhammad dan
dicontohkan oleh Umar Bin Khattab ini adalah cermin dari membangun sebuah kota
demokratis yang mengharga pluralitas dengan prinsp-prinsi dasar seperti
keadilan, supremasi hukum, egalitarianisasi dan toleransi.
Maka tidak berlebihan, jika sosiologi terkemuka Robert N.
Bellah mengakui masyarakat Madinah dimasa Nabi adalah suatu masyarakat yang
sangat modern dizamannya. Sayangnya, tatanan masyarakat ini hanya dapat
diteladani oleh para sahabatnya ( Al-Khulafa’ al Rasyidin ) karena setelah
masa itu bangun dasar masyarakat madani hancur dengan diterapkanya system
geneologis ( Dinasti ) .
Kini masyarakat madani adalah tidak sekedar Imagined
Sociaty tetapi suatu kebutuhan social yang memerlukan Graes Roat
terhadap nilai-nilai madani yang dapat teraktualisasi secara nyata dalam
masyarakat kota .
Arah dan Prospek Menuju Masyarakat Madani
Masyarakat madani merupakan sebuah tatanan kehidupan
masyarakat yang demokratis, pluralistis,transparan dan partisipatif dimana
peran infra dan supra struktur berada dalam keseimbangan yang dinamis.
Berbagai perubahan –perubahan sosial-politik yang cukup
signifikan terjadi oleh sementara orang dipandang sebagai pendorong proses
demokratisasi dan perkembangan masyarakat madani namun, sebagian pendapat
mengatakan prospek masyarakat madani dalam tahun-tahun mendatang kelihatannya
belum serba pasti . Ada perkembangan tertentu yang menggembirakan kondusif ,
dan mendukung bagi pencipta masyarakat madani, tetapi pada saat yang sama ada
juga perkembangan dan indikasi tertentu (social confliet) yang kurang
menggembirakan yang pada gilirannya dapat menjadi Constraints
bagi perkembangan masyarakat madani .
Bahkan sebagai pengamat melihat terjadi pergeseran
nilai-nilai sosial politik dalam tatanan masyarakat sebagai siklus perubahan
di mana kita tengah berada pada titik memulai kembali pembentukan masyarakat
madani dengan menyatukan kembali perbedaan-perbedaan menjadi sebuah pengakuan
atas pruralitas yang stabil dan dinamis, yang didalamnya masyarakat madani
yang memiliki ruang untuk bernapas dengan komitmen kemanusiaan dan keadilan.
Akan tetapi harus diakui, membangun sebuah masyarakat yang
berperadaban, maju dan bermartabat dalam ikatan persamaan dan
persaudaraan sejati memerlukan kerangka dan pendekatan yang lebih
bersifat evolusioner dari pada revolusioner . Pada
saat yang sama kerangka dan pendekatan ini secara implisir menawarkan
ongkos sosial minimal sebaliknya pendekatan revolusioner dalam
masyarakat madani, tidak saja akan meminta biaya social mahal,
tetapi bahkan dapat menghancurkan ketertiban dan keteraturan
masyarakat yang merupakan esensi masyarakat madani itu sendiri. Dari pemahaman
tersebut diatas, arah dan prospek menuju masyarakat madani sangat membutuhkan
waktu.
Niat baik pemerintah kota membangun masyarakat madani tidak
cukup dan sulit terealisir jika masyarakat tidak mempersiapkan diri dengan
matang dan sabar. Adalah mustahil untuk menegakkan sebuah pluralistis yang
berakar dari kesamaan dan persaudaraan sejati jika penghormatan pada martabat
dan nilai kemanusiaan masih jauh di depan mata.
Intinya membangun sebuah masyarakat madani memerlukan
komitmen bersama semua pihak .
Strategi Menuju Masyarakat madani
Berawal dari arti dan pemahaman kata "Madani"
yang merupakan strategi yang ditawarkan untuk penulisan topik makalah ini,
maka saya mencoba menelaah kehidupan kota dari pandangan seorang Arsitektur
John Eber- hand yang melihat kota secara biologis mewujudkan suatu system utuh
terdiri atas dua sub sistem, yaitu City’s Hardware dan
City’s Software (jasmani kota dan rohani kota).
Kota dipandang sebagai jasad yang hidup dimana suatu
jaringan organisme untuk kedua sub sistem (jasmani/rohani) memiliki
ketergantungan yang saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Gejala
metabolisme (pencernaan), kandiovaskuler (peredaran darah.) merumus (persyaratan)
merumus (petualangan) merupakan sub sistem "jasmani kota" yang
sehari-harinya memfungsikan jaringan yang menjamin pemenuhan kebutuhan secara
fisik.
Maka kota yang sehat "hard ware"nya juga
memerlukan keseimbangan "soft ware" atau rohani kota yang
mencakup berbagai aspirasi kehidupan kota secara ekonomis, politik,
administrasi, edukatif, social, kultual dan religius karena rohani kota dan
jasmani kota bertalian sangat erat . Ciri-ciri positif yang dikejar kita semua
dalam menyusun strategi sebuah kota mendambakan kota yang sehat jasmani dan
rohani . Visi biologis dari John Eberhand ini dalam bukunya Technology
for the City (New york, 1966) menjamin dimanakah keseimbangan kota
secara multidimensional.
Pandangan terhadap kota sebagai organisme atau jasad hidup
dengan proses keutuhan dan keseimbangan City’s hard ware dan City soft ware
sebagaimana diungkapkan diatas, maka lebih diperkaya dan dipertajam dengan
pengamatan dan kecenderungan penyusunan ruang kota guna menangkal kemungkinan
hilangnya potensi prilaku (budaya) sebagai jati diri.
Kita sadar sudah terlalu lama bidang perencanaan kota
didominasi dan dilihat dari aspek fisik dan keruanagn seperti untuk ukuran dan
besar kota, jalan-jalan, kepadatan dan stuktur sosialnya sementara kebijakan
yang diambil kurang berdaya untuk memecahkan masalah yang lebih mendasar yang
menjadi "jiwa" dari kota itu berkembang.
Bila kita berpaling pada sejarah kota Ternate, maka mozaik
kota hampir selalu merupakan pergelaran seni social yang terbentuk dari
berbagai rencana ragam perorangan, masyarakat dan kelembagaan. Semua luluh
jadi satu. Keterlibatan aktif segenap pihak termasuk penghuni kota akan
membuahkan hasil penampilan kota unik, berpribadi dan mengesahkan sesuai visi
dan misi kota ini. Penampilan yang saya maksudkan tidak sekedar dalam konotasi
keindahan fisual belaka, melainkan menyentuh juga kesejahteraan ekonomi dan
kegairahan budaya nya.
Dengan demikian, sesuai dengan Visi dan Misi saya Membangun
Kota ini (Ternate ) ; strategi perkembangan Kota Ternate ke depan yang
nantinya tertuang dalam tata ruang kota dengan berbagai hierarki yang terwujud
dalam bentuk peta-peta alokasi spasial dari aneka kegiatan masyarakatnya pada
akhirnya harus dilandasi dengan analisa social ekonomi dan budaya yang tajam
dan terarah. Beberapa factor yang menjadi pertimbangan bagi kita semua dalam
menterjemahkan "Visi dan Misi" kota ini ke depan sebagai
strategi dasar menuju masyarakat maju dan bermartabat sebagai pemaknaan
masyarakat yang madani.
Mengamati perkembangan global, karakter kota Ternate,
kultur masyarakat dengan sejumlah permasalahan pokok dan actual maka
dirumuskan "Visi dan Misi membangun Kota Ternate " sebagai
berikut
-
V I S I : Menjadikan Ternate sebagai kota budaya menuju
masyarakat madani .
- M I S I : Membangun Ternate menuju Kota Budaya Kota
Perdagangan dan Wisata dan Kota Pantai
Sebuah kota harus memiliki "jati diri"
sehingga jati diri itulah dapat diketahui kearah mana kota itu dikembangkan.
Kota Ternate adalah bagian dari sejarah masa lalu yang mengalami perjalanan
panjang kolonialisme sejak abad XV dan kota inipun sejak abad VII dan VIII
masehi telah tersentuh dengan peradaban dunia .
Membangun kota budaya , bukan sekedar
merevitalisasikan adab dan tradisi masyarakat local, tetapi lebih dari itu
adalah membangun masyarakat yang berbudaya agamis sesuai keyakinan indifidu,
masyarakat berbudaya yang saling cinta dan kasih yang menghargai nilai-nilai
kemanusiaan .
Sedangkan "Masyarakat Madani" yang diidamkan
bukan semata-mata milik suatu komunitas tertentu, tetapi itu merupakan
pemaknaan dari sebuah pemahaman tentang "civil society".
Terbangunnya "kota budaya" dengan nilai-nilai interensiknya akan merupakan
jalan lapang menuju "masyarakat madani" yaitu masyarakat berperadaban yang
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, masyarakat yang demokratis dan
masyarakat sejahtera yang cinta damai .
Strategi program pembangunan Ternate sebagai kota
Budaya diarahkan upaya mengintegrasikan pembangunan fisik dan non
fisik yang mengakarpada nilai dan keagamaan serta tradisi dan budaya
masyarakat.
Strategi program –strategi program pembangunan kota
perdagangan dan wisata diarahkanpada upaya untuk lebih meningkatkan
produktifitas, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kota secara
keseluruhan. Oleh karena itu dibutuhkan penyediaan lahan perkotaaan dan
penyiapan infra struktur perdgangan dan pariwisata yang memadai
Strategi Program pembangunan kota pantai/kota pulau
diarahkan pada upaya meningkatkan dan mengimbangkan kota Ternate dalam suatu
sistem wilayah kepulauan melalui peningkatan infra struktur perkotaan, sumber
daya alam, sumber daya manusia dalam kerangka pengembangan ekonomi rakyat .
Penutup
Demikianlah materi ceramah yang dapat saya
sampaikan dalam forum ini semoga dapat menyatukan persepsi kita dalam upaya
mewujudkan pembentukan menuju masyarakat Madani disertai beberapa strategi
pembangunan visi Kota ternate ke depan untuk membangun Ternate sebagai Kota
Budaya , Kota Perdagangan / Parawisata dan Kota Pulau/Pantai
|